Situasi Pembelajaran Jarak Jauh SMAN 61 Jakarta

Published by Haris Pratama on

Kondisi Sekolah Pasca Pandemi (Dok: Pers61)
Kondisi Sekolah Pasca Pandemi (Dok: Pers61)
Kondisi Sekolah Pasca Pandemi (Dok: Pers61)
Kondisi Sekolah Pasca Pandemi (Dok: Pers61)

Halo Sobat PERS! Bagaimana pembelajaran jarak jauhnya? Apakah lebih seru dibandingkan dengan pembelajaran saat masih sekolah? Saat pertama kali Virus COVID-19 sedang marak di Indonesia, SMAN 61 Jakarta dengan berat hati menyatakan bahwa pembelajaran di SMAN 61 Jakarta harus dilanjutkan secara daring. Untuk itu kami ingin mengulas beberapa kelebihan dan kekurangan yang sering dialami selama pembelajaran secara daring.

Kelebihan

Pertama, wawasan akan menjadi lebih luas. Dengan menerapkan pembelajaran secara daring atau biasa disebut e-learning,kita dapat menelusuri media pembelajaran dari situs yang ada di internet sehingga ilmu yang kita dapatkan tidak hanya didapat dari pembelajaran yang diajarkan guru di sekolah.

Kedua, aplikasi pembelajaran dapat diakses dengan mudah. Dengan hanya menggunakan smartphone ataupun laptop yang terhubung dengan internet, kita dapat dengan mudah mengakses materi yang diberikan oleh guru. Adapun aplikasi yang digunakan yaitu Nearpod, Zoom, dan Simak 61, serta WhatsApp sebagai perantara murid dengan guru untuk berkomunikasi. Maka dari itu e-learning dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Ketiga, waktu mengumpulkan tugas lebih fleksibel. Terkadang kita sudah lelah setelah mengikuti pembelajaran jarak jauh, sehingga kita mau beristirahat terlebih dahulu. Dengan adanya pembelajaran jarak jauh seperti ini terkadang guru memberikan kesenggangan waktu untuk mengumpulkan tugas sehingga tugas dapat dikumpulkan setelah pembelajaran jarak jauh selesai.

Kekurangan

Pertama, keterbatasan pada akses internet. Sulit sekali bagi beberapa orang yang tinggal di daerah dengan jangkauan internet yang kurang stabil untuk mengikuti pelajaran secara daring. Terputus saat melakukan virtual meeting melalui Zoompun merupakan hal yang sudah biasa dialami oleh beberapa pelajar. Harga pemakaian data yang digunakan pun masih terasa cukup mahal bagi beberapa kalangan pelajar. Hal inilah yang menyebabkan pembelajaran secara daring masih kurang efektif.

Kedua, berkurangnya interaksi antara guru dan murid saat pembelajaran berlangsung. Terkadang pembelajaran secara daring bersifat satu arah, sehingga interaksi antara guru dan murid menjadi berkurang. Akibatnya kita menjadi sulit untuk mendapatkan penjelasan dari materi yang sukar dipahami.

Ketiga, kesempatan untuk tidak mengikuti pelajaran menjadi lebih tinggi (bolos pelajaran). Banyak sekali kesempatan yang dapat digunakan murid untuk meninggalkan pelajaran. Salah satu contohnya yaitu murid bisa dengan mudah mematikan kamera pada saat virtual meeting dan kemudian melakukan hal lain yang tidak berhubungan dengan pembelajaran seperti bermain ataupun tidur.

Jadi dapat disimpulkan, bahwa pembelajaran secara daring di SMAN 61 Jakarta sudah cukup baik dan berkembang seiring berjalannya pandemi karena kerja sama yang baik dari berbagai pihak. Akan tetapi, masih terdapat banyak kekurangan dari pembelajaran secara daring yang tidak dapat dihindari. Nah, kalau kalian gimana nih pembelajaran secara daringnya? Jangan lupa share di kolom komentar yaa!

Categories: Artikel